Kajian Penerapan Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Pada Bangunan Gedung Bertingkat

Achmad Hidajat Effendi

Abstract


Kajian penerapan sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung bertingkat atau gedung tinggi maupun pada gedung-gedung berukuran besar dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana penerapan sistem pengendalian asap tersebut. Sedangkan tujuannya adalah untuk memperoleh data mengenai sistem pengendalian asap yang telah diterapkan. Penelitian dilakukan dengan metode survey lapangan terhadap 33 bangunan gedung di Jakarta, Surabaya dan Bandung meliputi bangunan gedung perkantoran, perhotelan dan pusat perbelanjaan/mall/atrium. Selanjutnya metode lain yang digunakan eksperimen di laboratorium, untuk memperoleh data/informasi tentang teknik yang dipergunakan untuk mengevaluasi karakteristik fisik pergerakkan asap pada bangunan terbakar. Hasil penelitian sistem pengendalian asap kebakaran, menunjukkan bahwa pada bangunan gedung perkantoran, perhotelan dan pusat perbelanjaan/mall/atrium umumnya telah menerapkan sistem pengendalian asap kebakaran. Penerapan sistem pengendalian asap dengan cara penekanan udara pada sumur tangga 100 % telah digunakan pada bangunan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan/mall/atrium, sedangkan sekitar 90,91 % telah digunakan pada bangunan gedung perhotelan. Sistem pengendalian asap dengan sistem injeksi tekanan udara, masih menggunakan cara yang beragam yaitu 26,09 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara tunggal dan 41,97 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara ganda, kemudian 25,89 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara gabungan. Sistem fan pada umumnya bekerja secara otomatis bila terjadi kebakaran, dengan digerakan oleh sinyal dari detektor kebakaran atau detektor asap dan bila terjadi kebakaran sistem tata udara berhenti secara otomatis. Dari 33 bangunan gedung yang disurvey menunjukkan belum ada satupun bangunan gedung yang menerapkan sistem tata udara sebagai sistem pengendalian asap kebakaran. Hasil pengujian laboratorium tercatat, laju pembangkitan asap berdasarkan estimasi kasar adalah 0,47 m3/detik, sementara udara masuk (ventilasi) sebesar o,46 m3/detik, hasil tersebut menunjukkan kemiripan dan memenuhi hukum kekekalan massa, sedangkan ketinggian asap yang dicapai dari lantai adalah 180 cm dengan temperatur 220ºC.


Keywords


Pengendalian asap; injeksi tekanan udara; sumur tangga; detektor asap.

Full Text:

PDF

References


Suprapto, Ir., M.Sc., 1992, Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung, Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Institut Teknologi Bandung-PT. Jaya Teknik Indonesia, Jakarta, hlm. 30.

Republik Indonesia, Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000, Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan dan Lingkungan, Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum, Jakarta, 1 Maret 2000, hlm. 137.

Butcher, E.G. & Parnell, A.C., 1979, Smoke Control in Fire Safety Design, E & F.N. Span Ltd., 11 New Fetter Lane, London, p. 39, 71, 107.

Klote, John, H. & Fothergill, John, W. Jr., 1983, Design of Smoke Control System for Buildings , National Bureau of Standards, Washington, p.2.

Shafwan, AR., 1986, Sistim Pengendalian Asap pada Sumur Tangga Bangunan Tinggi, Tugas Akhir S1 Sarjana Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung, hlm. 140.




DOI: http://dx.doi.org/10.31815/jp.2008.3.346-354

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright of Jurnal Permukiman ( e-ISSN: 2339-2975 ; print ISSN:  1907-4352 )

CC

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.