//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/issue/feedJurnal Permukiman2025-11-20T14:33:24+07:00Jurnal Permukimanjurnalpermukiman@pu.go.idOpen Journal Systems<p><strong>Jurnal permukiman</strong> is a periodical magazine containing scientific papers from the results of research, development, studies or ideas in the field of settlements covering urban/rural areas, buildings located therein, and facilities and infrastructure that support life and livelihood. JURNAL PERMUKIMAN is Published by <strong>Directorate of Buildings and Environmental Sanitation Engineering, Directorate General of Human Settlements, Ministry of Public Works.</strong></p> <table style="font-size: 16px; height: 178px; width: 555px; margin-left: 1rem;"> <tbody> <tr> <td>Journal Name</td> <td>: Jurnal Permukiman</td> </tr> <tr> <td>Publication Frequency</td> <td>: May and November</td> </tr> <tr> <td>Publisher</td> <td>: Directorate of Buildings and Environmental <br /> Sanitation Engineering</td> </tr> <tr> <td>Print ISSN</td> <td>: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/1907-4352" target="_blank" rel="noopener">1907-4352</a></td> </tr> <tr> <td>Electronic ISSN</td> <td>: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2339-2975" target="_blank" rel="noopener">2339-2975</a></td> </tr> <tr> <td>Email Contact</td> <td>: jurnalpermukiman@pu.go.id</td> </tr> </tbody> </table> <p> </p>//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/588Penerapan Fungsi pada Desain Ruang Terbuka Hijau untuk Kota Berkelanjutan2025-06-24T08:25:50+07:00June Ekawatijuneekawati@gmail.comRubi Ari MusaddadRubi.armusaddad@gmail.comPutri Nur AjizahPutrinurajizah0@gmail.comSyarif Fauzanfauzansyarif26@gmail.comImas Elianiimase2506@gmail.comTate Wijayatatewijaya8@gmail.comMuhammad Zulfikarmzulfikar607@gmail.comMuhammad Wilman FadlirrahmanWilmanmuhammad23@gmail.com<p><em>Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas di perkotaan akan makin meningkatkan pula kebutuhan lahan ruang terbuka hijau yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat di perkotaan karena keberadaannya akan mempengaruhi indeks keberlanjutan suatu kota. Upaya yang perlu terus dilakukan untuk mewujudkan Bandung sebagai kota berkelanjutan adalah dengan menambah RTH baru dan mengoptimalkan fungsi RTH pada taman-taman kota yang sudah ada. Penelitian yang berlokasi di Kota Bandung ini bertujuan mengeksplorasi penerapan fungsi RTH pada elemen desain Ruang Terbuka Hijau dan membuat evaluasi dan penilaian berdasarkan indikator fungsi RTH pada dua lokasi studi yaitu Kiara Artha Park dan Taman Lansia di Kota Bandung. Metode yang dipakai adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah bahwa penerapan fungsi RTH yaitu fungsi ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan estetika telah diterapkan di kedua lokasi studi pada vegetasi, material tutupan lahan, area komersial, kolam, elemen desain lansekap pada site, fasilitas dan aktivitas masyarakat. Namun masih terdapat beberapa indikator fungsi yang penerapannya kurang optimal, yaitu fungsi ekologi dan ekonomi pada Kiara Arta Park yang masih kurang baik sehingga perlu ditingkatkan, serta fungsi sosial-budaya dan estetika yang belum baik pada Taman Lansia sehingga perlu elemen maupun fasilitas tambahan agar bisa berfungsi lebih baik.</em></p>2025-11-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Jurnal Permukiman//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/574Preferensi Berhuni dalam Perencanaan Desa Mandiri Energi Berbasis Turbin Mikrohidro dan Panel Surya dengan Pendekatan Hedonic Pricing Method2025-06-24T08:25:22+07:00Amelia Tri Widyaamelia.widya@ar.itera.ac.idMadimadi@tse.itera.ac.idGaluh Fajarwatigaluh.fajarwati@ar.itera.ac.idNovita Hillary Christy Damaniknovita.damanik@ar.itera.ac.id<p><em>Instalasi turbin mikrohidro dan panel surya sebagai penyedia listrik di Dusun Ogan Jaya, Desa Sinar Jawa, Lampung menawarkan potensi besar dalam mewujudkan Desa Mandiri Energi (DME). Namun, potensi tersebut belum didukung dengan perencanaan spasial yang terintegrasi. Model perencanaan DME dapat diidentifikasi melalui preferensi berhuni. Dengan teridentifikasinya preferensi berhuni, intervensi perencanaan spasial dapat sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan lokal. Penyesuaian tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan program DME. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi berhuni melalui nilai hunian dengan pendekatan “Hedonic Pricing Method” (HPM). Penelitian dilakukan dengan menguji atribut hunian yang mempengaruhi nilai hunian. Atribut hunian yang diuji, diwakili oleh (1) kemudahan aksesibilitas; (2) fasilitas pendukung DME; (3) hubungan sosial; (4) identitas desa. Data yang terkumpul dianalisis dengan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memberikan respon positif terhadap penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) baik secara individu maupun kelompok. Namun, hunian yang hemat energi dapat menaikkan nilai hunian. Dalam perencanaannya, hunian harus dekat pusat desa. Masyarakat juga menginginkan rumah tinggal dekat dengan sungai. Model perencanaan DME memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dan perencanaan yang matang.</em></p>2025-11-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Jurnal Permukiman//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/613Kajian Hunian Abdi Dalem Terhadap Kedudukannya dalam Memenuhi Kebutuhan Self Respect dan Self Esteem 2025-07-24T08:57:33+07:00Tsabita Karlina Hidayatitsabitakarlinahidayati@gmail.comDewi Septantidewi_s@arch.its.ac.idPurwanita Setijantipsetijanti@arch.its.ac.id<p><em>Hunian ideal merupakan hunian yang mampu memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis penghuninya. Kebutuhan akan penghargaan diri (self-respect) dan harga diri (self-esteem) penghuni dapat diwujudkan melalui representasi arsitektur yang mencerminkan status sosial individu. Status seseorang bukan dilihat dari jumlahnya tetapi dari jenis dan bagaimana cara ditampilkannya. Namun, nilai-nilai budaya lokal tetap menjadi prinsip utama dalam pembentukan identitas hunian. Bangunan sebagai penanda dan simbol status memiliki empat kerangka hunian yang perlu diperhatikan yaitu culture, stage in life cycle, personality, dan needs. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami self-respect dan self-esteem pada hunian khusus, yaitu hunian abdi dalem di kawasan Keraton Surakarta. Dalam konteks permukiman, dapat dilihat bahwa budaya menjadi hal utama dalam pembentukan hunian abdi dalem. Penelitian ini memahami keterkaitan antara budaya dan pemenuhan kebutuhan psikologis penghuni pada konteks hunian tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian arsitektur dan psikologi lingkungan yang di mana self-respect (harga diri) dan self-esteem (penghargaan diri) merupakan faktor psikologis. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan mengkaji karakteristik hunian ke dalam konteks hunian abdi dalem. Pengumpulan data mengenai regulasi Keraton, tata letak hunian, dan tampilan hunian didapatkan melalui observasi dan studi terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-respect dan self-esteem dari hunian abdi dalem lebih mendahulukan kepentingan budaya dan keraton dibandingkan kepentingannya sendiri demi menunjukkan pengabdian yang sempurna, sehingga fasad hunian tidak mencerminkan faktor psikologis melainkan dapat dilihat pada penataan dalam huniannya.</em></p>2025-11-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Jurnal Permukiman//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/612Identifikasi Elemen Sense of Place untuk Mendukung Eksistensi Kampung Wisata Studi Kasus: Kampung Ketandan Surabaya2025-07-24T08:56:34+07:00Sara Amalia Sadendrasarasadendra@gmail.comPurwanita Setijantip.setijanti@its.ac.idMurni Rachmawatimurnirach@arch.its.ac.id<p><em>Saat ini di Indonesia banyak terdapat pengembangan permukiman kampung kota menjadi kampung wisata. Pengembangan tersebut menjadikan adanya identitas baru bagi suatu kampung. Hal ini menjadi menarik jika dilihat dari kacamata </em>rasa tempat <em>melalui elemen form, activity, dan meaning terhadap kampung. Rasa tempat merupakan suatu fenomena yang dirasakan langsung oleh manusia terhadap tempat dan juga memiliki peranan dalam mendukung eksistensi dan keberlanjutan suatu tempat wisata. Sejalan dengan Sustainable Development Goals </em><em>Nomor 11, yaitu kota dan permukiman yang inklusif berkelanjutan, maka eksistensi kampung wisata sebagai ruang bermukim yang berbudaya perlu diperhatikan. Penelitian ini berlokasi di Kampung Ketandan yang merupakan kampung asli di tengah perkotaan Surabaya dan menjadi destinasi wisata. Metode penelitian yang digunakan merupakan kombinasi kualitatif kuantitatif melalui observasi, dokumentasi, </em><em>pemetaan, wawancara, dan kuesioner kepada masyarakat Kampung Ketandan sebagai responden representatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen rasa tempat</em> <em>dapat mendukung eksistensi kampung wisata melalui adanya keterikatan masyarakat dengan kampungnya. Hal ini ditunjukkan oleh masyarakat yang melakukan kegiatan secara komunal yang kekeluargaan dan melangsungkan kegiatan ritual budaya. Kegiatan wisata tidak mengganggu masyarakat, bahkan menjadi peluang bisnis untuk membuat kampungnya menjadi lebih hidup. Oleh sebab itu, Kampung Ketandan dapat menjadi pusat edukasi budaya kampung kota bagi bagi masyarakat luas.</em></p>2025-11-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Jurnal Permukiman//jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/616Tantangan Pengubahsuaian (Retrofitting) Gedung Cipta Karya Jawa Timur Menjadi Bangunan Gedung Hijau 2025-09-02T10:31:35+07:00Diah Kusumaningrumdiahk.ppi2021@gmail.comTotok Sulistiyanto totok.sulis@naramamandiri.net<p><em>Pengubahsuaian (retrofitting) bangunan yang sudah ada (eksisting) menuju sertifikasi Bangunan Gedung Hijau (BGH) tahap pemanfaatan memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup aspek administratif, teknis, dan perilaku pengguna. Studi ini menganalisis kesiapan Gedung Cipta Karya Jawa Timur melalui metode studi kasus dengan pendekatan mixed-methods. Data diperoleh dari tinjauan dokumen, audit energi internal, simulasi teknis, dan survei persepsi pengguna terhadap 50-60 responden. </em><em>Ditinjau dari administratif, gedung telah menunjuk manajer energi dan menyusun rencana retrofit, namun belum sepenuhnya memenuhi persyaratan dokumen legal bangunan seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dan dokumen persetujuan lingkungan, sebagai persyaratan sertifikasi BGH Tahap Pemanfaatan. Aspek teknis menunjukkan nilai OTTV sebesar 33,9 W/m² telah memenuhi batas SNI 6389:2020, dan simulasi cooling load menunjukkan potensi penurunan konsumsi energi sebesar ±25% dan emisi GRK ≥20%. Namun, audit internal dan persepsi pengguna mengindikasikan bahwa kenyamanan termal dan pencahayaan masih perlu ditingkatkan. </em><em>Ditinjau dari perilaku, skor partisipasi pengguna tinggi (rata-rata >4 dari skala 5), menunjukkan kesiapan menjalankan efisiensi secara manual meski tanpa sistem otomatis. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan retrofit BGH sangat bergantung pada kesiapan administratif, efisiensi teknis, serta keterlibatan pengguna secara aktif pasca-retrofit.</em></p>2025-11-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Jurnal Permukiman