Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Prinsip Pariwisata yang Aksesibel

Inge Komardjaja

Abstract


Pecinan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang menarik. Secara ekonomi, kawasan wisata yang direncana dan dikelola dengan baik memberikan keuntungan yang berarti bagi pemerintah setempat. Demikian pula halnya dengan pecinan yang perlu ditata berdasarkan perencanaan matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berpegang pada prinsip pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan tertarik untuk mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang cacat mempunyai hak yang sama dengan mereka yang tidak cacat untuk berwisata. Penyandang cacat mempunyai keterbatasan mobilitas fisik, sehingga membutuhkan infrastruktur fisik yang mudah dan aman diakses. Dalam kenyataan, penyandang cacat tidak diberikan kesempatan yang setara untuk mengunjungi pecinan serta menikmati fasilitas dan suasana yang ditawarkan. Mereka mengalami kesulitan untuk bergerak secara mandiri, karena infrastruktur fisik kawasan pecinan tidak bebas hambatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem penyandang cacat. Hasil analisis data menunjukkan mereka masih mengalami marjinalisasi karena tidak dapat menggunakan atau kesulitan mengakses infrastruktur disitu. Desain universal menciptakan infrastruktur yang aksesibel yang memberikan kemudahan bagi semua golongan masyarakat, tanpa kecuali, seperti orang jompo, orang yang baru sembuh dari penyakit berat, anak kecil yang belajar jalan atau pendorong gerobak. Pecinan yang ramah-cacat (disabled-friendly) mendukung prinsip accessible tourism. 


Keywords


Penyandang cacat; keterbatasan mobilitas; pecinan; pariwisata; aksesibilitas

References


Accessible Tourism. Wikipedia, the Free Encyclopedia. Internet dibuka 24 Maret 2009

Davidson, R. dan R. Maitland. 1999. “Planning for Tourism in Town and Cities”. Dalam Greed, C. H. (Ed) Social Town Planning, London and New York: Routledge, hal. 208-220

Davies, L. 1999. “Planning for Disability: Barrier-Free Living”. Di Greed, C. H. (Ed) Social Town Planning, London and New York: Routledge, hal. 74-89

Disabled World. 2008, December 12. A Disability and Seniors Information Community. Internet dibuka 29 Januari 2009

Drakakis-Smith, D. 2000. Third World Cities – second edition, London and New York: Routledge

Greed, C. H. (Ed). 1999. Social Town Planning, London and New York: Routledge

Istijanto Oei. 2008. Rahasia Sukses Toko Tionghoa, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Kompas. 2008, 16 September. Sejarah Kota – Menanti Senyum Ratu dari Timur …, hal. 14

Puslitbang Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum, Kab. Bandung. Laporan Akhir Kegiatan Inovasi 2008 Pecinan di Bandung sebagai Potensi untuk Industri Pariwisata

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006, 1 Desember 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, Jakarta: Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya

Ross, G. F.; penerjemah Marianto Samosir. 1998. Psikologi Pariwisata, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Travel, disability, law, United Nations. 2008, 21 Maret. Sumbernya : http://blogs.bootsnall. com/Scott+Rains/tourism-in-the-united-nations-convention-on-the-rights-of-persons-with-disabilities-crpd.html. Internet dibuka 26 Mei 2009

UNESCAP (United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific). 1999. Promotion of Non-Handicapping Physical Environments for Disabled Persons: pilot projects in three cities, New York: United Nations




DOI: http://dx.doi.org/10.31815/jp.2009.4.110-120

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright of Jurnal Permukiman ( e-ISSN: 2339-2975 ; print ISSN:  1907-4352 )

CC

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.